CIAMIS, 28 September 2025 – gemapriangan.com Legenda Ciung Wanara yang telah lama menjadi bagian dari khazanah budaya Sunda ternyata bukan hanya dongeng rakyat belaka. Situs Wisata Budaya Karangmulyan di Kabupaten Ciamis merupakan peninggalan nyata Kerajaan Galuh yang berdiri dari abad ke-7 hingga ke-14 Masehi, menjadi bukti keberadaan peradaban besar di tanah Pasundan.
Ciung Wanara: Sosok Ikonik dalam Legenda dan Sejarah
Ciung Wanara adalah putra Prabu Permana Di Kusumah dan Dewi Naganingrum, raja dan ratu Kerajaan Galuh abad ke-7 Masehi yang ibu kotanya berada di kawasan Karangmulyan. Setelah lahir, ia dihanyutkan ke Sungai Citanduy oleh rencana jahat menteri Aria Kebonan dan Dewi Pangrenyep. Bayinya kemudian ditemukan dan diasuh oleh Aki Balangan Trang di Geger Sunten, dengan nama Ciung Wanara yang berarti “burung ciung dan monyet” sebagai simbol kecerdikan dan keberanian.
Ketika dewasa, Ciung Wanara mengetahui asal-usulnya dan pergi ke Kerajaan Galuh yang saat itu dipimpin oleh Prabu Barma Wijaya (Aria Kebonan yang telah menggantikan raja sebelumnya). Raja yang gemar sabung ayam ini memiliki ayam yang tak pernah kalah dan menawarkan apapun kepada siapapun yang bisa mengalahkannya. Ciung Wanara menerima tantangan dengan syarat mendapatkan setengah kerajaan jika menang. Ayamnya yang dimandikan di Sumur Panyipuhan berhasil mengalahkan ayam raja, sehingga ia menjadi raja yang sah dan kemudian membagi Kerajaan Galuh dengan saudara tirinya Hariang Banga, yang dipercaya sebagai awal terbentuknya Kerajaan Galuh dan Pajajaran.
Situs Sejarah yang Menyimpan Banyak Keajaiban
Kawasan seluas sekitar 25 hektare di Desa Karangmulyan, Kecamatan Cijeungjing, diyakini sebagai bekas pusat Kerajaan Galuh dengan berbagai peninggalan sejarah berupa batu-batu bersejarah, antara lain:
– Tempat Sabung Ayam: Arena pertandingan ayam Ciung Wanara dengan ayam Prabu Barma Wijaya.












