Tuntutan May Day 2026: Reforma Agraria Sejati
Dalam peringatan May Day 2026, aliansi buruh dan tani mengajukan sejumlah tuntutan strategis, di antaranya:
– Pencabutan regulasi yang dinilai mempermudah penguasaan lahan oleh korporasi
– Penghapusan sistem outsourcing
– Kenaikan upah buruh
– Pelaksanaan reforma agraria dengan distribusi lahan terlantar kepada rakyat
– Perlindungan terhadap buruh dari PHK sepihak
Distribusi tanah dinilai sebagai solusi struktural untuk mengurangi ketimpangan dan memperkuat posisi tawar buruh.
Pembelajaran dari Negara Lain
Sejarah menunjukkan bahwa reforma agraria dapat berdampak besar terhadap kesejahteraan buruh. Korea Selatan dan Taiwan pada era 1960-an berhasil meningkatkan upah dan stabilitas kerja setelah mendistribusikan lahan secara merata kepada petani. Dengan kepemilikan tanah yang memadai, masyarakat desa tidak lagi terpaksa menjadi buruh murah di kota.
Arah Gerakan di Banjar
Ke depan, perjuangan buruh di Banjar dinilai perlu terhubung dengan isu agraria. Langkah yang dapat didorong antara lain:
– Audit lahan terlantar di wilayah sekitar
– Distribusi lahan kepada buruh terdampak PHK dan petani tak bertanah
– Advokasi kebijakan melalui lembaga pemerintah daerah
Kesimpulan
May Day tidak hanya tentang upah, tetapi juga tentang struktur ekonomi yang lebih adil. Tanpa penyelesaian ketimpangan penguasaan tanah, kesejahteraan buruh akan sulit tercapai secara berkelanjutan. Reforma agraria menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan kerja layak, upah layak, dan kehidupan yang lebih adil bagi seluruh rakyat.
Mahardika, aktivis gerakan agraria dan mahasiswa pascasarjana Ilmu Hukum, menyampaikan bahwa kondisi buruh saat ini masih jauh dari kata sejahtera. Ia menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan di tengah dinamika global yang semakin kompleks, agar kepentingan rakyat tidak terus terpinggirkan oleh kekuatan ekonomi besar.
Aher Forwapi




















