Di saat kita sibuk menata acara, ada hal-hal sederhana yang justru semakin terabaikan. Salah satunya adalah fungsi trotoar di berbagai titik Kota Tasikmalaya.
Pejalan kaki — warga paling sederhana di kota ini — kini harus berbagi ruang yang sempit dengan puluhan pedagang kaki lima yang berjualan tepat di atas trotoar. Bukan berarti kami menolak kehadiran PKL. Mereka adalah bagian dari perekonomian rakyat yang harus diberi tempat yang layak. Namun yang terjadi saat ini bukan penataan, melainkan pembiaran yang membuat pejalan kaki terpaksa turun ke badan jalan, mempertaruhkan keselamatan demi bisa melangkah.
Belum lagi masalah parkir liar yang semakin marak. Kendaraan diparkir sembarangan hingga menyempitkan akses jalan dan menambah kemacetan, sementara pungutan liar berjalan tanpa pengawasan yang jelas dari pemerintah kota tasikmalaya. Warga tidak hanya kehilangan ruang berjalan, tapi juga kenyamanan dan keamanan yang seharusnya dijamin oleh pemerintah.
Pesan untuk Pemerintah: Kritik Adalah Bentuk Cinta
Berita ini tidak ditulis untuk menumbangkan semangat pembangunan. Justru sebaliknya — kritik ini lahir karena kami mencintai kota ini dan menginginkannya lebih baik.ujar sultonudin,
Hadirin sekalian, sebuah kota yang bermartabat bukan dilihat dari seberapa megah festival yang digelar, melainkan dari seberapa baik ia memperlakukan warga kecilnya. Ketika masyarakat biasa merasa diperlakukan sama, ketika pejalan kaki memiliki trotoar yang aman, dan ketika pedagang kecil mendapat tempat yang tertib — di sanalah hari jadi kota ini benar-benar bermakna.
Semoga catatan sederhana ini menjadi bahan renungan bersama. Bahwa di balik pesta-pesta besar, jangan pernah lupakan rakyat kota tasikmalaya yang mungkin tidak bisa membeli tiket dan lebih mementingkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, namun merekalah yang sesungguhnya menjadikan Tasikmalaya sebuah kota — yaitu rakyatnya sendiri.
Sultonudin menyampaikan “Kepada Pemerintah Kota Tasikmalaya: ingat Bangunan yang indah akan runtuh jika lupa pada fondasinya. Rakyat adalah fondasi itu. Selamat hari jadi Kota Tasikmalaya — semoga tahun depan kita semua bisa merayakannya dengan rasa yang lebih adil, lebih merata, dan lebih bermartabat bagi semua.”
Disisi lain salah satu warga Kp.Cicariang Kawalu Ibu Heni 56 thn,beliau mengatakan saya melihat berita di sosial media bahwa di Dadaha ada festival Lumiland untuk perayaan hari jadi kota tasikmalaya ini di bulan Oktober tapi sayang “MILARAAN” ka warga, manawi teh Gratis ah jang masyarakat kota tasikmalaya. Paparnya,
Heni beserta keluarganya datang kesini untuk melihat lampu-lampu Buricak Burinong yang viral di sosial media, tapi pas kesini harus bayar Dewasa Rp.35.000 dan Anak-anak Rp.25.000 saya jadi mikir lagi untuk masuk kedalam, saya beserta suami dan anak ada 6 jiwa dewasa 4 orang yang sekolah SD dan Paud 2 orang berarti saya harus ngeluarin uang untuk beli tiket Rp.190.000 kalau semuanya pengen masuk, bagi saya uang segitu “Lebar mending meser baso tiasa 2 porsi ewang” tutupnya sambil ketawa,




















