Milad ke-12 Pesantren D
Gema Priangan— Tasikmalaya, 11 Oktober 2026
Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Bukan pula waktu yang terlalu lama dalam perjalanan sejarah sebuah lembaga yayasan. Namun dalam dua belas tahun inilah, Pesantren Darussalam Cibeurih perlahan tumbuh, berakar, dan mekar — bukan dengan gemerlap kemewahan, melainkan dengan kesederhanaan yang tulus, di tengah hamparan sawah dan kesunyian desa, menjadi pelita bagi anak-anak yang haus akan ilmu dan akhlak.
Kini, pesantren yang beralamat di Kp.Cibeurih Ds.Padasuka Kec.Sukarame Singaparna Kabupaten Tasikmalaya ini genap berusia 12 tahun. Sebuah perjalanan yang layak dikenang, bukan karena usianya, melainkan karena jejak-jejak kebaikan yang telah ditorehkannya.
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Ustadz Ajengan Mama Aep Saepudin mengatakan,
Angka 12 menyimpan makna mendalam. Dalam perhitungan waktu, ada 12 jam siang dan 12 jam malam — melambangkan bahwa dakwah dan pendidikan tidak pernah berhenti, baik saat terang maupun gelap. Dalam rukun agama, ada 12 bulan, di mana satu di antaranya adalah bulan penuh keberkahan. Dan dalam perjalanan manusia, 12 tahun adalah masa satu kitaran kecil pertumbuhan — dari anak-anak yang baru belajar membaca, hingga menjadi pemuda yang siap memikul tanggung jawab.
“Dua belas tahun berarti 12 kali musim berganti, 12 kali generasi santri datang dan pulang, namun satu hal yang tak pernah berubah: niat awal untuk mendidik manusia yang bermanfaat.”
Jejak yang Ditanam di Cibeurih
Berawal dari langkah kecil, mungkin hanya beberapa ruang sederhana dan segelintir santri, Pesantren Darussalam Cibeurih kini berdiri tegak. Tidak dengan bangunan yang menjulang tinggi, melainkan dengan hati-hati yang saling menguatkan. Di sini, ilmu tidak hanya ditransfer melalui tulisan di papan tulis, melainkan melalui keteladanan — dari bangun sebelum subuh hingga beristirahat di larut malam.
Pendidikan di Darussalam Cibeurih bukan sekadar mencetak lulusan yang pintar berbicara, melainkan pribadi yang santun dalam bertindak. Ilmu tanpa akhlak ibarat pohon tanpa buah — tumbuh tinggi, namun tak memberi manfaat. Inilah yang terus dijaga: keseimbangan antara kecerdasan pikiran dan keindahan budi pekerti.
Pesantren ini bukan sekadar tempat belajar — ia adalah rumah bagi siapa saja yang ingin menemukan ketenangan, tempat pulang bagi mereka yang mencari arah. Di dalamnya diajarkan bahwa kedamaian dimulai dari diri sendiri: menata hati, menata lisan, lalu menata lingkungan sekitar.
Jika dunia luar sibuk mengejar kemewahan, Darussalam Cibeurih mengingatkan: kekayaan terbesar bukanlah yang tersimpan di brankas, melainkan ilmu yang diamalkan dan doa anak-anak sholeh yang terus mengalir.paparnya,




















