“Lahan sawah warga sekarang kekurangan air. Ini sangat kami sayangkan,” tambahnya.
Dampak juga dirasakan pelaku usaha. Otin, pemilik warung nasi dan kupat tahu di Kp. Cidolog, mengaku terpaksa menutup usahanya secara permanen.
“Saya sangat dirugikan. Pelanggan kabur karena banyak lalat, bau menyengat, dan bising suara blower. Warung saya akhirnya tutup hanya jualan seadanya saja, ” ujarnya.
Otin dan Cicih mengaku sudah beberapa kali mencoba menyampaikan keluhan langsung ke perusahaan. Namun, mereka mengaku dihalangi petugas keamanan di pos jaga dan hingga kini belum ada tanggapan maupun solusi dari pihak perusahaan untuk masyarakat sekitar kampung cidolog.
Warga berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya segera turun tangan agar aktivitas perusahaan tidak semakin mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan.
“Kami tidak menolak perusahaan berusaha di wilayah kami. Tapi tolong hargai warga. Ada aturan, ada komunikasi, ada sosialisasi, dan ada izin dari masyarakat. Jangan sampai anak cucu kami yang tadinya hidup di lingkungan sehat dan sejuk, sekarang harus terdampak pencemaran,” tutup Cicih.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen perusahaan belum memberikan keterangan resmi terkait pencemaran lingkungan ke warga kampung cidolog.
Penulis : Dk




















