Ia juga membantah adanya target pembelian dari penerbit tertentu.
Klarifikasi serupa disampaikan Toto Ali Roman, dari KKM Wilayah 5. Ia menyatakan pihak KKM pada prinsipnya hanya menjalankan fungsi fasilitasi dan sosialisasi sesuai arahan pimpinan.
“Yang kami terima dari pimpinan, kami hanya disuruh memfasilitasi untuk sosialisasi. Adapun pemesanan atau tidak, itu diserahkan kembali kepada satkernya masing-masing,” jelas Toto.
Ketika ditanya apakah terdapat target jumlah pembelian, Toto menjawab tegas bahwa tidak ada.
“Tidak ada,” katanya.
Begitu pula ketika ditanya mengenai adanya paksaan terhadap madrasah untuk membeli buku tertentu.
“Tidak ada paksaan,” ujarnya.
Toto bahkan mengaku tidak mengetahui jumlah madrasah yang melakukan pemesanan kepada masing-masing penerbit. Menurutnya, data tersebut berada di luar kewenangan KKM karena keputusan pembelian merupakan kewenangan masing-masing satuan kerja.
KBC Bukan Nama Buku
Dalam kesempatan yang sama, Dadang juga meluruskan istilah KBC yang sebelumnya disebut-sebut dalam konteks pembelajaran di madrasah.
Menurutnya, KBC bukan nama buku, melainkan pendekatan dalam pembelajaran yang dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Cinta.
Pendekatan tersebut mengintegrasikan lima nilai utama dalam seluruh mata pelajaran, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara.
“Seluruhnya harus terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran,” jelasnya.
Dadang mengatakan, kurikulum induk yang digunakan tetap mengacu pada implementasi Kurikulum Merdeka, sementara pendekatan pembelajaran dapat menggunakan Kurikulum Berbasis Cinta maupun pembelajaran mendalam.
Implementasi pendekatan tersebut, lanjut dia, telah berjalan di madrasah dan menjadi bagian yang turut diperhatikan dalam supervisi kepala madrasah maupun pengawasan, ( Yus is )



















