Menurut penelusuran, sejumlah warung kopi berlampu redup di sekitar jalur dua Cilembang sering dijadikan kedok praktik prostitusi. Warung-warung tersebut ramai dikunjungi para sopir truk maupun masyarakat setempat pada malam hari. Di tempat itu, kerap dijumpai perempuan muda yang siap melayani lelaki hidung belang dengan imbalan tertentu.
Ridwan, salah seorang warga yang ditemui Pangandarannews, berharap pemerintah Kota Tasikmalaya segera turun tangan membersihkan praktik prostitusi terselubung ini. “Warung remang-remang ini jelas merusak moral masyarakat. Kami minta pemerintah tegas menutup tempat-tempat berkedok warung kopi yang digunakan untuk praktik prostitusi,” tegasnya.
Fenomena ini dinilai bukan sekadar persoalan individu, melainkan sudah menjadi masalah sosial yang kompleks. Faktor ekonomi, lemahnya pemahaman agama, serta lingkungan yang permisif turut memicu suburnya prostitusi. Karena itu, penanganan serius lintas sektor dinilai sangat dibutuhkan agar persoalan ini tidak terus merusak generasi dan citra Tasikmalaya. (Anwar)




















