Ia mengaku, pola pelayanan serupa pernah diterapkan ketika dirinya bertugas di Kecamatan Buahdua. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk mengembangkan pelayanan yang lebih dekat dan responsif di Kecamatan Sumedang Selatan.
Kiki menargetkan, dalam 100 hari pertama masa yang ditetapkan, program tersebut sudah menunjukkan perubahan nyata. Pelaksanaannya direncanakan menjangkau desa-desa, termasuk mendatangi langsung rumah warga yang membutuhkan perhatian dan pelayanan khusus.
Jangan Berhenti pada Seremonial
Meski mengusung konsep yang memadukan kegiatan keagamaan dan pelayanan publik, Gerbang Surga Ma Wa mengatasi tantangan yang tidak ringan. Keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya salat Subuh berjamaah atau banyaknya jenis layanan yang dibuka dalam satu kegiatan.
Tolok ukur sebenarnya adalah dampak setelah kegiatan berlangsung. Apakah dokumen kependudukan warga benar-benar terselesaikan? Apakah masyarakat rentan memperoleh akses kesehatan dan jaminan sosial? Apakah pelayanan menjadi lebih cepat, mudah, dan tidak diskriminatif?
Pertanyaan tersebut penting agar Gerbang Surga Ma Wa tidak berhenti menjadi agenda seremonial yang ramai pada saat diluncurkan, tetapi kehilangan keinginan dalam praktik pemerintahan sehari-hari.
Program ini sekaligus menjadi ujian bagi jajaran Kecamatan Sumedang Selatan untuk membuktikan bahwa semangat mengabdi yang dibangun selepas salat Subuh benar-benar diterapkan sepanjang hari.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan kehadiran pejabat dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga kepastian bahwa masalah administrasi, kesehatan, dan sosial mereka terselesaikan hingga tuntas.
Pada akhirnya, Gerbang Surga Ma Wa bukanlah sekadar gerakan membangunkan warga untuk salat Subuh berjamaah. Lebih dari itu, program ini membawa pesan bahwa pemerintah juga harus membangunkan kesadaran pelayanannya: hadir, bergerak, mendengar, dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat.( Yus is )




















