“Kita ini sekarang ingin mencoba, dimulai dari desa pula, pemilihan secara elektronik secara masal bisa dilakukan. Kita siap, kita mampu, Insyaallah mampu,” ucap Dony.
Dia menyebut Sumedang memiliki pengalaman dalam digitalisasi pelayanan pemerintahan desa. Berbagai layanan administrasi masyarakat telah mulai memanfaatkan teknologi sehingga masyarakat dan aparatur desa semakin terbiasa dengan sistem digital.
“Keuntungannya kecepatan, ketepatan dan sebagainya,” ujarnya.
Meski demikian, dia menekankan kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi faktor penting. Karena itu, panitia diminta serius mengikuti bimbingan teknis dan simulasi sebelum hari pemungutan suara.
“Jangan persoalan baru ada ketika pemungutan. Lebih baik sekarang ditanyakan, sehingga ada solusinya,” kata Dony.
Kaitan gal tersebut, ia pun meminta seluruh unsur penyelenggara Pilkades bekerja secara solid. Menurutnya, keberhasilan Pilkades digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga koordinasi seluruh pihak.
“Harus saling melengkapi, harus saling menguatkan, bukan saling melemahkan,” tegasnya.
Perangkat daerah yang mendapat tugas sebagai liaison officer (LO), camat, panitia desa, BPD dan unsur lainnya diminta menjadi bagian dari solusi apabila menemukan persoalan di lapangan.
Bupati Dony juga mengingatkan bahwa panitia memiliki peran penting dalam menentukan proses lahirnya pemimpin desa.
“Sesungguhnya kita akan mencari siapa pun yang amanah, yang bisa melayani rakyatnya, yang bisa membangun desanya. Dan kuncinya ada di kita, panitia,” tuturnya.
Dirinya menyebutkan bahwa pelaksanaan Pilkades digital di 92 desa akan menjadi pengalaman penting bagi Sumedang. Dia mengajak seluruh pihak melihatnya sebagai momentum untuk menunjukkan kesiapan desa beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Kalau tidak ada yang mau memulai, siapa lagi? Kita mulai dari Sumedang,” tegas Bupati Dony.( Yus is )




















